PILIH-PILIH TEMAN

Hello my bloGGy mates!!

Teman dapat dikatakan sebagai seseorang yang menjadi pelengkap dan cerminan diri kita. Mengapa? karena kehadiran teman sangat berpengaruh dalam diri kita- apa yang teman kita lakukan, tanpa kita sadari akan kita lakukan juga.

Kali ini saya ingin membagi kisah saya dan beberapa teman saya.

Setahun belakangan ini, saya merasa kesepian di sekolah. Hal ini dikarenakan sulitnya saya untuk beradaptasi di lingkungan baru. Saya merasa ada perbedaan karakter antara saya dan teman-teman di sekolah, sehingga saya di cap sebagai orang yang individualis, cepu karena melapor ke BK saat ada bullying di kelas, pelit karena tidak mau memberi jawaban saat ulangan, egois dan semacamnya.

Untungnya, saya memiliki teman sebangku yang sepaham dengan saya. Jadi kalau disindir ya sudah satu paket. Awalnya kami nangis kalau disindir tapi lama kelaaman kita malah tertawa kalau ada yang menyindir. Karena dari sindiran mereka, kami belajar untuk semakin sabar dan kuat.

Setelah masa-masa di semester 1 berakhir, kami beranjak ke semester 2. Keadaan masih sama, masih banyak yang kesal dengan kami. Tapi keadaan kami berubah, kami tidak selemah semester lalu.

Tapi itu tidak bertahan lama, kekuatan saya dalam menghadapi mereka hampir saja hilang, karena teman sebangku saya memutuskan untuk pindah sekolah. Saya menangis, saya hampir menjadi lemah kembali.

Melihat keadaan saya yang lemah waktu itu, orang tua saya mengingatkan saya agar tidak berhenti untuk mengungkapkan kebenaran. Dan berusaha semakin sabar dalam menghadapi segala cobaan. Karena sabar, tidak ada batasnya. Jika kita marah atau kecewa setelah berusaha sabar itu namanya kita belum bersabar.

Karena itu, kekuatan saya kembali lagi dan mulai menghargai keputusan teman sebangku saya untuk pindah sekolah dan saling mendoakan yang terbaik di sekolah masing-masing.

Teman saya di sekolah lain juga pernah bercerita, kalau teman-teman nya banyak yang bermuka dua. Misalnya, si A, si B dan si C, suka main bareng, jajan bareng, curhat bareng dsb. Tapi saat si A tidak masuk sekolah, si B ngomongin hal buruk tentang  si A ke si C.

Buat apa berteman jika kita tersenyum di luar tapi ngedumel di dalam?

Berbeda lagi dengan teman saya yang lainnya yang juga sekolah di tempat lain. Dia memakai topeng agar bisa berbaur dengan teman-teman sekitarnya yang sebenarnya kepribadiannya jauh dari dia.

Untuk kita yang masih memakai topeng, lebih baik dilepas sekarang juga.. jangan sampai karena terlalu lama memakainya kita lupa melepasnya.

Dan pasti juga banyak yang bertanya, “kalau saya menjadi diri saya sendiri dan tidak berusaha membaur dengan mereka yang kebanyakan nakal, saya tidak akan punya teman dan merasa kesepian?”

Saya langsung teringat dengan ucapan guru ekonomi saya, kurang lebih ia mengatakan seperti ini..

Kita emang harus pilih-pilih teman, jadi gausah sedih kalau punya teman sedikit… yang penting baik-baik, daripada kita berteman dengan yang bandel nanti kita ikutan bandel.

Kesimpulannya adalah,

  1. Kita tidak boleh takut mengungkapkan kebenaran, jangan takut dihujat atau dibenci, karena zaman sekarang memang sudah kebalik, yang benar di benci, yang salah di senangi. Dan apa yang kita lakukan pada akhirnya akan menjadi tanggung jawab kita sendiri
  2. Kita harus berteman dengan orang yang benar-benar tulus dan selalu membantu kita dalam kebenaran dan mengingatkan kita jika melakukan kesalahan
  3. Jangan pernah memaksakan diri kita untuk berteman dengan orang yang tabiatnya buruk, karena kita tidak akan pernah nyaman atau lebih parah terbawa tabiat buruk mereka. Cari teman yang benar-benar sesuai dengan diri kita dan Allah pasti akan membantu kalau kita mau berusaha dan berdoa.
  4. Tapi tidak lantas ketika kita tau kita mempunyai teman yang tabiat nya buruk kita langsung menjauhi dan membenci nya, kita harus tetap ingatkan. Tapi jika kita sudah ingatkan dan dia tidak peduli baru biarkan dia memilih jalan yang dia inginkan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.
[HR Abu Dâwud no. 4833 dan at-Tirmidzi no. 2378. (ash-Shahîhah no. 927)]

Semoga kita mendapatkan teman sejati dan terbaik, aamiin 🙂

Advertisements

IPS ≠ BODOH

Hello my bloGGy mates!!

Saat kita masuk SMA, kita mulai merasakan adanya penjurusan. Kalau zaman sekarang ada jurusan IPA dan IPS, berbeda dengan zaman orang tua, waktu itu juga ada jurusan Bahasa.

Ada yang memilih jurusan karena minat nya sendiri, atau mungkin ada intervensi dari orang tua, gengsi, dan bisa saja karena ikut-ikut teman. Dan ada yang memilih suatu jurusan karena merasa dirinya bodoh… jurusan apalagi kalau bukan IPS.

Begitu pun dengan persepsi orang kebanyakan, saat seseorang tau kalo si itu masuk IPS tanggapannya akan berbeda dengan si dia yang masuk jurusan IPA.

“oh si itu masuk IPS..” dengan muka sedatar mungkin

“wah si dia masuk IPA, pinter ya” dengan muka yang menunjukkan rasa kagum

Berbeda lagi dengan tanggapan orang lain jika ada anak yang pintar masuk jurusan IPS..

“Sayang banget masuk IPS, kenapa gak ke IPA aja sih? kan si itu pinter”

Dan jika ada anak yang otak nya biasa-biasa aja masuk ke jurusan IPA, tanggapannya..

“Yakin tuh otak nya kuat nerima pelajaran di IPA? kan si dia ga pinter-pinter amat”

Dan sayangnya, banyak pula yang kemakan dengan omongan-omongan ini, yang tadinya mau masuk IPA jadi gak yakin karena ngerasa otaknya biasa-biasa aja. Begitu pula sebaliknya, mereka gak yakin masuk IPS karena ngerasa otaknya terlalu hebat jika harus masuk ke jurusan itu. Padahal itu salah besar, karena yang tau minat seseorang hanya dirinya sendiri, dimana kelemahan dia, dan dimana kelebihannya. Tidak tergantung betapa pintar nya dia, seberapa besar IQ dia.

Selain itu, ada yang dipengaruhi kedua orang tua nya, yang merasa gengsi jika anaknya harus memilih suatu jurusan. Banyak alasan yang diberikan contohnya, meneruskan generasi kedua orang tua nya yang berprofesi sebagai dokter lalu dipaksa masuk ke IPA, padahal minat ada di ranah pengetahuan sosial. Atau alasan lain yang menginginkan anaknya agar menjadi pengacara, lalu dipaksa masuk IPS, padahal minatnya ada di ranah pengetahuan alam.

Menurut saya, seharusnya para orang tua mendukung apa saja yang anak mereka pilih (selama hal itu tidak bertentangan dengan agama). Bahkan jika si anak tidak ingin sekolah tapi dia memiliki minat yang besar di suatu bidang- misalnya sepakbola.. maka izinkanlah dia masuk klub sepakbola dibandingkan harus melihat dia tersiksa dengan pelajaran di sekolah.

Seringkali anak-anak IPS di cap sebagai pembuat onar, bodoh, suka menghancurkan nama baik sekolah dan hal-hal buruk lainnya. Mengapa? karena IPS dijadikan pelampiasan bagi mereka yang merasa dirinya bodoh dan malas sekolah.

Dan lebih menyedihkan nya lagi, anak sosial di haruskan untuk selalu menghafal, menghafal dan menghafal. Yang sangat amat bertolak belakang dengan kata sosial. Bukankah kata sosial mengaruskan kita berinteraksi dengan orang banyak? contohnya dipelajaran sosiologi kita diberi hafalan yang sangat banyak. Padahal, sosiologi adalah pelajaran yang hanya memerlukan sedikit teori dan membutuhkan segudang praktek agar pelajaran itu terlaksana dengan baik.

Sebagai generasi muda, kita harus benar-benar belajar dan menerima apapun yang ada di sekolah meskipun sistem pendidikan di negara ini, bisa dibilang dibawah standar.. Siapa tau, nanti kita bisa menjadi orang yang membuat sistem pendidikan di negara ini lebih baik.. jauh lebih baik.

Kita tidak boleh merasa diri kita itu bodoh, Mengapa? karena jika kita merasa diri kita bodoh, kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan pelajaran-pelajaran baik yang ada di IPA maupun di IPS. Nilai kita tidak akan pernah memuaskan.

Apalagi penjurusan ini akan bergantung dengan fakultas yang akan kita pilih nantinya.

Dan parahnya lagi, karena gengsi dan intervensi dari diri sendiri dan orang sekitar….banyak yang membelot dari jurusan yang mereka pilih di SMA dengan fakultas yang mereka pilih di universitas.

Contohnya… di SMA jurusannya IPA, saat di universitas masuk fakultas ekonomi dan bisnis, hukum, komunikasi. Jadi apa kabar dengan ilmu fisika, biologi, dan kimia yang mereka pelajari saat SMA? hmm..

Dan saat itu pula, anak IPS kehilangan ladang.

Di lain pihak, anak-anak IPS tidak akan bisa mengambil jurusan kedokteran, MIPA, teknik nuklir, dsb.

Dan ini adalah salah satu bentuk ketidakadilan dalam sistem pendidikan di negara ini. Bagaimana bisa anak IPA mengambil ladang IPS, dan anak IPS hanya mampu berdiam diri?

Saya rasa, anak IPS perlu berbangga diri karena yang bersaing dalam memilih fakultas di ranah sosial bukan anak IPS saja tapi juga IPA 😉

Ada satu hal lagi yang sangat mengusik, yaitu adanya program Lintas Minat. Untuk apa anak IPA belajar sosiologi/ekonomi/geografi/sejarah peminatan? dan untuk apa anak IPS belajar fisika/kimia/biologi/matematika peminatan? Jika ada hal semacam itu, untuk apa ada penjurusan? Bukankah adanya penjurusan agar kita lebih fokus ke minat kita masing-masing?

Kesimpulannya,

Tidak ada yang lebih pintar dan lebih bodoh di kedua jurusan ini. Karena minat tidak tergantung dengan kepintaran, karena minat tidak perlu diusik rasa gengsi, malu dan semacamnya. Dan minat seseorang tidak akan pernah bisa dipaksakan.

Yang lebih penting lagi kita harus konsisten dengan jurusan yang sudah kita pilih, jangan pernah setengah-setengah menjadi anak IPA, dan jangan pernah setengah-setengah menjadi anak IPS.

Kembangkan ilmu yang sudah kita dapatkan. Yang memilih jurusan IPA, ayo berkarya sesuai dengan ilmu yang didapat-misalnya jadilah ilmuwan yang menemukan hal baru, ahli IT yang bisa membuat teknologi hebat yang mampu bersaing dengan negara lain,dan seterusnya.

Yang memilih jurusan IPS ayo ubah kehidupan sosial di negara ini menjadi lebih baik- misalnya meningkatkan perekonomian dan bisnis, membantu mengurangi masalah kemiskinan atau diskriminasi sosial, menegakkan hukum di negara ini agar lebih adil untuk segala kalangan dan seterusnya.

Jadi di tahun ajaran baru nanti, bagi yang baru masuk SMA pilihlah jurusan yang sesuai dengan minat kalian dan yang sudah naik kelas harus makin berprestasi dan konsisten di jurusan yang sudah dipilih! 🙂

 

 

MASIH SUKA NYONTEK?

Hello, my bloGGy mates!!

Minggu kemarin, saya menjalankan PAS atau biasa disebut UKK. Tidak ada yang berubah dengan sistem penilaiannya, seperti diberi soal pilihan ganda ditambah essay.

Dan tidak ada perubahan pula bagi kebanyakan murid disekolah, masih banyak yang nyontek. Ada yang mencari jawaban lewat google, ada yang tanya-jawab antar teman, dan ada pula yang mengintip jawaban temannya diam-diam.

Bahkan sebelum ulangan dimulai ada beberapa murid dari beberapa sekolah yang mengutip sebuah hadits yang berbunyi

“Barang siapa yang ditanya tentang suatu ilmu pengetahuan lalu ia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat kelak Allah akan mengekangnya dengan kekang api neraka”

(HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Mereka menganggap hadits tersebut dapat dipakai untuk menyindir murid lain yang pelit dalam memberi contekkan.

Salah, salah besar. Hadits ini dikeluarkan pastinya bukan untuk membantu dalam hal contek-mencontek atau yang bisa kita bilang perbuatan dusta.

Berbeda dengan apabila ada yang menanyakan soal ilmu agama dan ia tidak mau memberikan ilmunya atau contoh lainnya ada orang yang tidak mengerti suatu pelajaran- misalnya, tentang trigonometri, saat dia menanyakan soal trigonometri kepada orang yang paham, orang yang paham tersebut tidak mau membagi ilmunya. Jika kedua masalah ini dikaitkan dengan hadits tersebut baru sesuai.

Hadits yang sesuai dalam hal contek-mencontek adalah

Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan kepada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat disisi Allah sebgai orang yang jujur.

Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”

(HR. Muslim no. 2607)

Yang saya ingin ceritakan selanjutnya adalah beragam cara menyontek yang kebanyakan murid lakukan.

Contoh pertama,

Kakak kelas yang duduk disebelah saya saat ujian membuka handphone nya untuk mencari jawaban via google. Oleh karena itu, ia dapat menjawab soal-soal dengan lancar.

Contoh kedua,

Ada juga yang membuat rangkuman tentang mata pelajaran yang diujikan lalu ditaruh di kolong meja, ah sudah biasa bukan?

Contoh ketiga,

Depan, belakang, kanan, kiri saya mendapatkan jawab dengan cara bertanya kepada teman. Misalnya, “Eh nomer 10 jawabannya apa?” lalu diberi kode dengan menggunakan jari- contohnya 1 berarti jawabannya A, 2 berarti jawabannya B, dan seterusnya.

Contoh keempat,

Mengintip jawaban orang, lalu meyalin di lembar jawaban mereka.

Contoh terakhir,

Mengambil foto jawaban mereka lalu dibagikan ke group chat kelas.

Saya harus akui bahwa mereka hebat, iya hebat. Hebat menyontek.

Kalau kejadiannya seperti ini, lalu apa fungsi pengawas? mereka tidak bisa mengawasi anak muridnya dengan benar. Kebanyakan pengawas di ruang ujian asik bermain handphone atau mungkin……. tidur. Ah, tidak bisa diharapkan.

Sampai suatu hari, ada pengawas di ruang ujian saya yang dapat disebut mata elang. Jika diawasi beliau dan masih ada yang nekat menyontek langsung dikeluarkan. Para pencontek pun panik, bingung nanti harus menjawab apa, muka kesal dan panik akhirnya menghiasi wajah mereka- sampai akhir jam ulangan.

Hari remedial pun tiba,

Para pencontek, banyak yang remedial- salah satunya yang mengintip jawaban saya. Sudah menyontek, gagal pula.

Tetapi, banyak juga pencontek yang tidak remedial, dan mereka bangga. Bangga kalau nilai mereka bagus… padahal hasil contekkan. Bahkan ada yang menyombongkan dirinya karena nilai nya bagus. Saya sempat kesal- namun kemudian saya ingat, kalau dia menyontek, setelah itu saya tidak peduli dengannya malah ingin menertawakannya.

Salah satu teman saya, dia tidak pernah menyontek dan dia harus remedial untuk beberapa mata pelajaran. Adil? Tentu saja tidak. Tapi setidaknya dia jujur- dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang jujur, bukan sebagai pendusta.

Banyak alasan mengapa mereka harus menyontek

Pertama, “nilai saya kan harus naik, saya harus mendapatkan SNMPTN”

Kita harus lebih berusaha untuk mendapatkan Surga-Nya, nilai ulangan urusan duniawi semata, kawan. Dan itu dapat kita usahakan dengan belajar lebih giat bukan dengan menyontek.

Kedua, “nilai saya harus bagus, saya ingin membanggkan orang tua saya”

Kalau dengan cara seperti itu, sama saja kita membohongi orang tua. Orang tua kita mungkin bisa bangga, tapi kalau mereka tau itu hasil menyontek? Hm..

Kita pasti pernah menyontek. Tapi, hal itu harus dihentikan, menyontek tidak boleh dijadikan kebiasaan, karena yang dirugikan bukan hanya yang dicontek tapi juga yang menyontek itu sendiri.

Karena, apa yang kita dapat dari menyotek?

Ilmu? Tidak.

Kebanggaan? Tidak.

Mau sampai kapan kita menyontek terus?

Bayangkan, bagi mereka yang dicontek mereka sudah belajar mati-matian, tapi malah dicontekkin.

Kalau kita berhenti menyontek, guru-guru pun bisa tau sampai dimana kemampuan kita sebenarnya dan pada pelajaran apa, serta evaluasi untuk para guru sudahkah mereka menyampaikan materi dengan baik dan dimengerti oleh para siswa nya.

Hal itu pasti akan membantu untuk mengembangkan potensi kita. Misalnya, kita diikutsertakan dalam perlombaan di bidang mata pelajaran yang kita kuasai atau mungkin diberi nilai tambah oleh guru.

Yuk, berhenti nyontek? 🙂

 

 

 

 

SAMPAH DISANA SAMPAH DISINI

Hello bloGGy mates!!

Kebersihan adalah sebagian dari iman.

Terkadang kita hanya tau kata-kata itu tanpa diresapi, tanpa dipraktekkan. Kebersihan rasanya bukan lagi hal penting bagi kebanyakan orang, terutama di negara dimana saya tinggal. Buang sampah seenaknya, di lantai, di jalanan, di mana-mana ada sampah. Banyak orang tidak peduli dan mereka kurang lebih berkata “Toh, saya cuma buang satu plastik- apa efeknya? Emang langsung banjir, gitu?” – tapi sayang, yang berbicara seperti itu tidak hanya 1 orang, banyak.

Dan parahnya banyak generasi muda yang lupa- bahwa mereka tugas nya mengatasi, mengingatkan, dan memberhentikan hal-hal salah yang dilakukan oleh pendahulunya. Generasi muda malah ikut-ikutan buang sampah sembarangan. Misal, di lingkungan sekolah, sehabis minum air putih- botol nya dibuang ke lantai atau ditaruh di kolong meja atau bahkan sampah nya ditendang-tendang ke meja depan/belakangnya, seakan memberi kesan meja yang bersih. Padahal, tempat buang sampah itu tepat berada di depan kelas nya. Tidak susah kok jalan ke luar kelas, anggap saja sedang berolahraga. 

Saya heran, apakah mereka dapat merasa nyaman di lingkungan kotor yang penuh sampah? Apakah buang sampah sudah menjadi hobi? Atau sudah menjadi kesenangan tersendiri melihat sampah berserakan?

Sampai di suatu pagi, saya ingin melakukan sebuah riset kecil-kecilan. Pagi itu, saya membersihkan ruangan kelas yang penuh sampah itu, melelahkan memang tapi entah mengapa saya merasa senang (bukan berarti saya memiliki kesenangan tersendiri melihat sampah). Saya sengaja menaruh sampah-sampah yang dibuat oleh teman-teman sekelas saya didepan kelas, dimana menjadi titik pusat penglihatan para murid. Saya hanya ingin melihat reaksi mereka. Semakin lama, banyak murid yang datang. Dan hasilnya…

Yang peduli dan langsung mengambil sapu : 7 orang
Yang tidak peduli dan berjalan melewati tumpukan sampah itu : 30 orang. Sangat jauh, bukan?

Bagi mereka yang sudah ingin menyapu, langsung saya tahan untuk tidak menyapu tumpukan sampah tersebut, karena saya sedang melakukan “riset”. Mereka mengangguk tanda mengerti apa yang saya maksud. Dan saat saya rasa para murid sudah pada datang dan sepertinya guru sudah mau masuk kelas, saya buru-buru membersihkan tumpukan sampah itu (tentunya ke dalam tong sampah).

Dari riset yang saya lakukan ini dapat saya simpulkan bahwa kesadaran akan kebersihan masih berada di bawah angka 0. 

Saya juga masih merasa kesadaran saya akan lingkungan sekitar masih kurang. Tapi bukan tidak mungkin kita semua tidak akan sadar akan kebersihan. Kita akan bisa, kalau kita paham bagaimana mulai rapuhnya bumi kita ini- betapa butuhnya bumi akan kebersihan dari para penduduknya. Kita harus lebih paham dan peka.

Kalau belum menemukan tempat sampah di sekitar kita, lebih baik dipegang terlebih dahulu/atau bawa plastik sendiri- dan langsung dibuang ketika sudah menemukannya. Dan jangan lupa cuci tangan.

Yuk, buang sampah ditempatnya! 🙂

KELAS CIBI

Hello my bloGGy mates!!

Sekarang sudah mendekati tahun ajaran baru dan disekolah saya juga sudah diadakan tes untuk kelas CIBI. Mungkin kelas CIBI ini sudah tidak asing untuk beberapa murid sekolah, tetapi jika ada yang belum tau, CIBI adalah singkatan dari Cerdas Istimewa Bakat Istimewa, dimana adanya kelas khusus bagi murid yang memiliki tingkat kecerdasan dan bakat yang istimewa. Dan sekolah yang berkesempatan untuk membuat kelas CIBI juga tidak semuanya, melainkan hanya beberapa sekolah terpilih.

Tetapi menurut saya, kelas CIBI yang ada di kota saya malah mencerminkan betapa buruknya sistem pendidikan di Indonesia. Mengapa saya menyatakan demikian? karena kebanyakan pendaftaran CIBI dimulai dengan sesuatu benda yang harum wanginya bagi orang yang tamak, atau bisa kita kenal dengan uang. Dapat kita katakan bahwa modal tes dari CIBI bukan hanya kemampuan otak dan sertifikat yang kita miliki- tetapi membutuhkan modal uang yang besar pula.

Saat saya duduk di bangku kelas 9, teman-teman saya banyak yang mengikuti pendaftaran CIBI dan mereka menceritakan tentang banyak hal yang membuat saya tambah yakin bahwa CIBI bukanlah suatu hal yang istimewa.

Salah satu teman saya bercerita bahwa untuk masuk kelas CIBI- membutuhkan uang sumbangan yang mencapai jutaan rupiah, jika kurang maka akan ditolak secara halus oleh pihak sekolah meskipun kita memiliki otak yang ada diatas rata-rata. Dan saya tidak dapat menyalahkan sekolah tersebut sepenuhnya, karena hal seperti itu tidak akan terjadi jika orang tua bisa berpikir lebih rasional, maksud saya, orang tua harus bisa mengerti bahwa hal yang mereka lakukan itu salah, apakah logis uang sumbangan untuk sebuah sekolah mencapai angka puluhan juta rupiah, terlebih lagi ini merupakan sekolah negeri, bukan sekolah swasta. Dimana SEHARUSNYA semua fasilitas di sekolah sudah menjadi tanggung jawab pemerintah.

Dan di SMA saya, saya mulai merasakan perbedaan yang sangat jauh antara kelas CIBI dan kelas reguler.

Kelas CIBI membayar uang iuran sekolah yang bisa mencapai 2 kali lipat lebih besar dibandingkan kelas reguler, mereka mendapatkan fasilitas yang jauh lebih baik pula dibandingkan kelas reguler. Seperti kursi yang empuk, kelas ber-AC, loker dan satu komputer di tiap kelas serta kelas yang akan selalu terjamin kebersihannya meski murid di kelas tersebut suka membuang sampah sembarangan- karena setelah pulang sekolah,kelas tersebut langsung dibersihkan oleh petugas kebersihan sekolah. Terlebih lagi, kelas CIBI juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan science trip dan hal semacamnya yang  tidak akan didapati di kelas reguler.

Berbanding terbalik dengan kelas reguler, dimana kursi untuk kelas reguler hanya terbuat dari kayu, kelas yang hanya bermodal kipas angin serta kelas yang tidak terjamin kebersihannya apabila para murid tidak ada yang piket atau tidak ada yang berniat membersihkan kelas tersebut.

Dan pada akhirnya para murid reguler merasakan apa namanya kesenjangan sosial. Bukankah, sekolah negeri harusnya memiliki standar dan fasilitas yang setara di tiap kelas nya? Dan bukankah, di sekolah negeri seharusnya tidak perlu membayar uang iuran sekolah karena semua sudah menjadi tanggung jawab pemerintah, serta sangat disayangkan, jika melihat kuota untuk murid yang masuk lewat jalur PPDB sangat sedikit- bahkan tidak mencapai 100 kursi, padahal para murid yang masuk lewat nem dapat menaikkan peringkat sekolah tersebut.

Aneh rasanya apabila para murid yang memiliki kecerdasan dan bakat yang istimewa harus membayar lebih, bukankah mereka seharusnya mendapatkan apresiasi atau penghargaan yang lebih dari sekolah? misalnya beasiswa atau sekolah gratis. Karena sebenarnya, sekolah yang mendapatkan keuntungan dari para murid berprestasi tersebut.

Jadi menurut saya, kelas CIBI merupakan sebuah bentuk ketidakadilan, kesenjangan sosial, dan kecenderungan adanya praktek pungli.

Bagaimana menurut kalian? 🙂

SENIORITAS

Hello, my bloGGy mates!

Hari ini saya akan bercerita tentang senioritas, senioritas biasanya terjadi di kalangan anak-anak sekolah terutama saat menginjakkan kaki di SMA. Apalagi saat mereka sudah mulai naik ke kelas 11 lalu ke kelas 12. Dan bisa dibilang senioritas adalah saat ada orang yang merasa dirinya lebih tua dan dirinya juga menganggap memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan orang yang lebih muda sehingga ia menginginkan perlakuan khusus dari orang yang lebih muda darinya. Dampak dari senioritas dapat membuat para junior merasa tertekan akibat tindakan yang dilakukan senior nya. Tetapi, para senior akan terus mengelak dengan alasan “ini akan melatih mental junior kami”.

Meskipun, sekolah saya merupakan salah satu sekolah terbaik di kota tetapi sekolah saya masih ada suatu hal aneh yang dinamakan senioritas dan saya merasakan betul ada dinding kokoh diantara adik kelas dan kakak kelas. Baiklah, saya akan memberikan beberapa contoh bentuk ke-senioritas-an di sekolah saya

A. Junior tidak boleh makan di kantin

Yup, para senior tidak membolehkan anak kelas 10 dan 11 makan di kantin, kami hanya boleh membeli makanan/minuman disana lalu kembali ke kelas. Kursi di kantin kesannya telah menjadi hak milik sang senior, jika kami berani untuk makan disana mereka akan berani pula melototi kami dan melabrak kami.

B. Junior tidak boleh lewat lapangan sekolah

Sama halnya dengan yang satu ini, lapangan juga telah menjadi hak milik para senior, entah apa yang akan dilakukan mereka jika ada anak kelas 10/11 yang berani melewati lapangan. Anak kelas 10 dan 11 hanya boleh berada di lapangan saat waktu upacara dan olahraga atau acara sekolah.

C. Junior tidak boleh melewati koridor kelas 12

Nah yang satu ini juga tidak kalah menyeramkan, jika ada junior yang berani melewati koridor ini, mungkin dia sudah habis dimarahi atau dilabrak kakak kelas.

D. Junior tidak boleh menggerai rambutnya

Di sekolah kami, junior juga dilarang untuk tampil cantik salah satunya dengan tidak memperbolehkan junior untuk menggerai rambutnya, rambut mereka harus diikat setiap saat di sekolah. Sebenarnya, bukan hanya saat di sekolah saja, melainkan saat mereka diluar sekolah, para junior dilarang untuk menggerai rambutnya jika mereka masih menggunakan seragam dari sekolah kami, aneh bukan? tentu saja aneh. Dan ada satu kata yang mungkin tidak akan pernah saya lupakan dari mulut salah satu senior saat masa MPLS ( Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah ) atau dulu disebut dengan MOS, dia mengatakan “kalian gausah macem-macem kalo masih pake seragam sekolah”. Apalagi jika foto itu di share ke instagram, mungkin para senior akan langsung berubah menjadi macan yang lapar yang siap memakan mangsa nya, yaitu si junior nekat itu.

Aneh memang, yang dilakukan para senior yang gila hormat itu. Padahal jelas-jelas dari kelas 10-12 sama sama membayar untuk fasilitas sekolah yang tersedia, tapi  sayangnya,kami para junior tidak dapat menikmati fasilitas dengan sepenuhnya contohnya adalah hal-hal yang sudah saya sebutkan diatas, seperti kantin dan lapangan.

Dan mengapa kami tidak boleh melewati koridor kelas 12? Apakah sekolah ini milik para senior? Ya, tentu saja bukan.

Serta masalah soal menggerai rambut, apa hak para senior melarang junior untuk style rambut mereka sendiri selama masih dalam batas wajar.

Ditambah lagi, tidak ada soal tertulis dari pihak sekolah yang mengatakan junior tidak boleh makan di kantin lah, lewat lapangan lah, dan lain-lain yang telah dilarang para kakak kelas.

Dan saya juga baru merasakan, rasanya dilabrak kakak kelas beberapa hari lalu, rasanya…….. lucu dan tidak akan pernah saya lupakan.

Kakak kelas yang masih berada di bangku kelas 11, datang ke kelas kami dan melabrak para perempuan yang ada di kelas kami. Mereka marah karena mereka mendengar jika salah satu anak perempuan di kelas kami menyindir mereka dengan sebutan “cantik” dan juga “agit”. Bagi yang belum tau apa itu agit, agit adalah sebutan bagi anak kelas 3 atau kelas 12. Mereka marah dan menunjuk nunjuk kami dengan cara yang tidak sopan dan jelas saja, siapapun tidak suka dengan hal itu. Saya dan salah satu teman sekelas saya memberanikan diri untuk menjadi perwakilan untuk berbicara dengan kakak-kakak kelas itu. Mereka kesal jika harus disindir dengan kata agit atau cantik karena mereka merasa diri mereka belum menjadi anak kelas 12 dan entahlah mengapa mereka tidak suka dikatakan cantik…

Setiap perkataan mereka membuat saya ingin tertawa karena mereka terus memusingkan hal yang sangat sangat amat tidak penting untuk dipikirkan, tentu saja apapun yang mereka katakan sangat mudah dibalikkan oleh saya dan teman sekelas saya sehingga membuat mereka terdiam karena bingung harus menjawab apa. Dan sampai akhirnya mereka meminta konsekuensi yang harus dihadapi jika teman sekelas kami ada yang menyindir mereka lagi (padahal sebenarnya mereka tidak tau pasti apakah dan siapakah yang menyindir mereka sebelumya). Saya dan teman saya cukup kaget karena permintaan konsekuensi yang mereka ajukan- saya dan teman saya menolak untuk diberi konsekuensi dan mereka terus meminta dan kami juga terus menolak sampai akhirnya mereka menyerah. Tetapi sebenarnya tidak, karena pada akhirnya mereka tetap mengatakan “awas ya sekali lagi”, saya benar benar ingin tertawa karena ulah mereka. Dan akhirnya kami kembali ke kelas dan menceritakan semua yang terjadi kepada teman kami yang lainnya, mereka pun tertawa dan heran mengapa kami begitu berani menghadapi kakak-kakak kelas itu karena sebelumnya teman seangkatan kami lainnya juga pernah ditegur oleh kakak kelas lalu tidak mau masuk selama 3 hari setelahnya karena takut.

Menurut saya, buat apa takut? selama kita di posisi yang benar kita harus berani berbicara jika ada hal yang menganggu kita. Jangan hanya karena mereka kakak kelas, kita takut untuk berbicara kesalahan atau kesalahpahaman yang mereka perbuat dan jangan lupa untuk berbicara dengan sopan dan juga harus diusahakan agar tidak terlarut dalam emosi dalam masalah ini.

Dan apakah kalian ingat dengan film A Bug’s Life dimana para kawanan semut yang berani melawan kawanan belalang yang dari postur tubuh nya saja sudah jelas lebih besar daripada para semut. Tetapi jika kawanan semut sudah bersatu mereka pasti dapat melawan para belalang besar yang nakal itu.

Maka dari itu, kita harus berani melawan senioritas, ajak teman-teman mu untuk memberhentikan hal kekanak-kanakan ini. Jika masih ada yang berpikiran untuk membalas dendam hal yang kalian dulu rasakan sebagai adik kelas yang di intimidasi oleh kakak kelas- tolong dihilangkan, karena hal ini tidak akan menemui ujungnya jika tidak ada yang menghentikan. Dan kita harus bersatu untuk merobohkan dinding kokoh antara senior dan junior dan kompak untuk mengharumkan nama sekolah dengan saling menghormati satu sama lain serta menambah prestasi dibandingkan sensasi.

Jadi siapkah kalian menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki keberanian yang besar untuk melawan kesenioritasan ? 🙂

 

 

PEREMPUAN

Hello my bloGGy mates!!

Banyak hal yang menganggu pikiran saya belakangan ini, yaitu tentang perempuan dan hari-hari yang berkaitan tentang nya. Mengapa menganggu pikiran saya? karena saya tidak setuju dengan hari hari tersebut, seperti Hari Kartini, Hari Ibu, international Women’s Day yang baru baru ini diadakan. Mungkin, beberapa dari anda ada yang setuju dan pasti saja ada yang tidak setuju. Baiklah, saya akan menjelaskan kenapa saya tidak setuju dengan perayaan hari-hari tersebut.

1.Hari Kartini

Alasan yang membuat saya tidak setuju tentang hal ini karena didalamnya mengandung hal tentang emansipasi wanita. Emansipasi wanita adalah penyetaraan derajat wanita dan laki-laki. Contoh tindakannya antara lain perempuan dapat sekolah sampai mendapat gelar profesor atau bekerja di kantor seperti halnya laki-laki. Memang benar, perempuan harus lah pintar karena suatu saat dia akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Tapi emansipasi modern kali ini, menurut saya sudah lewat batas wajar, seakan-akan perempuan bisa lebih unggul dan kuat dibandingkan laki-laki, seakan-akan kita melupakan peran laki-laki. Ini jelas-jelas salah karena perempuan dan laki-laki diciptakan berbeda dan itu sudah merupakan suatu bentuk ketetapan dan tidak dapat diubah. Kita diciptakan berbeda juga untuk melengkapi satu sama lain bukan untuk ajang saling unggul-unggulan. Perempuan dan laki-laki sudah memiliki tugas nya masing-masing. Kita sering melihat atau mendengar seorang ibu berusaha memperjuangkan emansipasi nya sehingga dia terus bekerja, begitu pula dengan suaminya yang bekerja sampai larut malam untuk mencari nafkah sehingga anak nya dititpkan ke pembantu. Lalu dimana peran ibu sebagai sekolah  pertama bagi anak-anaknya? Mereka terlalu sibuk, sehingga anaknya pun lebih dekat dengan para pembantu dibandingkan dengan ibunya sendiri. Ibu seharusnya merawat anaknya, memberi perhatian yang cukup kepada anaknya bukan malah demi mendapatkan uang yang banyak mereka melupakan kasih sayang terhadap anaknya. Dan menurut pengalaman saya selama bersekolah dari SD-SMA, Hari Kartini hanyalah menjadi ajang dimana kita memakai kebaya, lalu berfoto-berfoto, itu saja. Mungkin yang diinginkan Kartini adalah agar perempuan mendapatkan kesempatan untuk bersekolah tinggi dan berakhlak mulia. Tapi kenyataan yang dapat kita lihat sekarang, sekolah hanyalah tempat untuk mengejar nilai tinggi sedangkan akhlak masih harus dilakukan banyak perbaikan.

2. Hari Ibu

Saya tidak setuju dengan Hari Ibu karena menurut saya, hari ini tidak perlu dirayakan. Mengapa seakan-akan kita memuliakan peran seorang ibu, mengingat jasa seorang ibu, menyayangi ibu, memberi hadiah ke ibu hanya hari tertentu?  Peran dan jasa seorang ibu tidaklah pantas jika hanya dihargai sekali selama setahun melainkan peran dan jasa seorang ibu harus dihargai seumur hidup. Jadi menurut saya kita harus menyayangi ibu dan mendoakan mereka setiap saat.

3. International Women’s Day

International Women’s Day diadakan setiap tanggal 8 Maret. Meskipun saya seorang perempuan saya tidak setuju dengan hari tersebut, mengapa? disini perempuan menuntut untuk dihargai terutama oleh kaum lelaki, Bukan berarti saya setuju dengan hal-hal bejat seperti kekerasan seksual ataupun kekerasan fisik, cat calling, dan lain lain, saya juga tidak setuju dan semua orang pasti tidak setuju. Tapi kita harus melihat di sisi lain, mengapa hal-hal bejat tersebut dapat dilakukan. Banyaknya laki-laki yang tidak dapat menjaga pandangan dan mengontrol hawa nafsu, menyebabkan hal ini dapat terjadi. Tetapi saya rasa, hal ini tidak dapat disalahkan sepenuhnya kepada kaum adam, karena manusia diciptakan mempunyai hawa nafsu, baik perempuan dan laki-laki. Dan hawa nafsu dapat kita kontrol dengan menjaga pandangan kita dan menjaga diri kita sendiri. Jika ingin dihargai kita hendaknya MENGHARGAI diri sendiri terlebih dahulu, jangan menghargai diri kita dengan harga murah. Dan saya juga melihat beberapa spanduk yang terdapat di Women’s March di Jakarta beberapa waktu kemarin yang banyak terdapat gambar-gambar tidak senonoh dan juga kata-kata yang tidak senonoh serta dalam Women’s March kemarin juga dihadiri beberapa anak dibawah umur yang pastinya tidak pantas melihat gambar dan kata-kata seperti itu (saya tidak akan memberi gambar/kata-kata tersebut, karena telalu senonoh jika harus ada di kolom blog saya). Contoh kata yang terdapat dalam spanduk antara lain “celana pendek di negara tropis wajar, stop cat calling” lalu bagaimana dengan perempuan yang tinggal di Arab (yang memiliki cuaca lebih panas dibandingkan di Indonesia)mereka tidak memakai celana pendek, malahan mereka memakai baju yang menutupi seluruh aurat mereka. Satu lagi “Don’t tell me how to dress but tell them not to rape” seharusnya kita menjaga cara berpakaian terlebih dahulu agar tidak membuat seseorang nafsu dan hendaknya kita dapat melakukan bela diri agar kita dapat melindungi diri dari ancaman orang-orang jahat disekitar kita.

Di dalam agama saya, agama Islam, semua hal itu sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Dan kita bisa lihat bahwa betapa banyak ayat yang memuliakan seorang perempuan selama kita mau patuh dan taat kepada Sang Pencipta.

Untuk Hari Kartini, tidak ada namanya penyetaraan derajat antara kaum wanita dan laki-laki untuk urusan duniawi. Di Al-Qur’an juga sudah dijelaskan “Dan laki-laki tidaklah sama dengan perempuan [Ali ‘Imran/3:36]

Untuk Hari Ibu, sebenarnya telah dijelaskan pada suatu hadits yang berisikan “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548). Jadi, kita wajib berbakti kepada ibu setiap saat bukan pada tanggal tertentu.

Terakhir untuk International Women’s Day, penghargaan perempuan dalam Islam sudah dimulai sejak perempuan masih menginjak usia kanak-kanak. Dan hal tersebut telah dituangkan dalam sebuah hadits yang berisikan

“Barangsiapa mengasuh dua orang anak perempuan sehingga berumur baligh, maka dia akan datang pada hari Kiamat kelak, sedang aku dan dirinya seperti ini.” Dan beliau menghimpun kedua jarinya.” (HR. Muslim)

Terimakasih telah membaca semoga bermanfaat! 🙂