SENIORITAS

Hello, my bloGGy mates!

Hari ini saya akan bercerita tentang senioritas, senioritas biasanya terjadi di kalangan anak-anak sekolah terutama saat menginjakkan kaki di SMA. Apalagi saat mereka sudah mulai naik ke kelas 11 lalu ke kelas 12. Dan bisa dibilang senioritas adalah saat ada orang yang merasa dirinya lebih tua dan dirinya juga menganggap memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan orang yang lebih muda sehingga ia menginginkan perlakuan khusus dari orang yang lebih muda darinya. Dampak dari senioritas dapat membuat para junior merasa tertekan akibat tindakan yang dilakukan senior nya. Tetapi, para senior akan terus mengelak dengan alasan “ini akan melatih mental junior kami”.

Meskipun, sekolah saya merupakan salah satu sekolah terbaik di kota tetapi sekolah saya masih ada suatu hal aneh yang dinamakan senioritas dan saya merasakan betul ada dinding kokoh diantara adik kelas dan kakak kelas. Baiklah, saya akan memberikan beberapa contoh bentuk ke-senioritas-an di sekolah saya

A. Junior tidak boleh makan di kantin

Yup, para senior tidak membolehkan anak kelas 10 dan 11 makan di kantin, kami hanya boleh membeli makanan/minuman disana lalu kembali ke kelas. Kursi di kantin kesannya telah menjadi hak milik sang senior, jika kami berani untuk makan disana mereka akan berani pula melototi kami dan melabrak kami.

B. Junior tidak boleh lewat lapangan sekolah

Sama halnya dengan yang satu ini, lapangan juga telah menjadi hak milik para senior, entah apa yang akan dilakukan mereka jika ada anak kelas 10/11 yang berani melewati lapangan. Anak kelas 10 dan 11 hanya boleh berada di lapangan saat waktu upacara dan olahraga atau acara sekolah.

C. Junior tidak boleh melewati koridor kelas 12

Nah yang satu ini juga tidak kalah menyeramkan, jika ada junior yang berani melewati koridor ini, mungkin dia sudah habis dimarahi atau dilabrak kakak kelas.

D. Junior tidak boleh menggerai rambutnya

Di sekolah kami, junior juga dilarang untuk tampil cantik salah satunya dengan tidak memperbolehkan junior untuk menggerai rambutnya, rambut mereka harus diikat setiap saat di sekolah. Sebenarnya, bukan hanya saat di sekolah saja, melainkan saat mereka diluar sekolah, para junior dilarang untuk menggerai rambutnya jika mereka masih menggunakan seragam dari sekolah kami, aneh bukan? tentu saja aneh. Dan ada satu kata yang mungkin tidak akan pernah saya lupakan dari mulut salah satu senior saat masa MPLS ( Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah ) atau dulu disebut dengan MOS, dia mengatakan “kalian gausah macem-macem kalo masih pake seragam sekolah”. Apalagi jika foto itu di share ke instagram, mungkin para senior akan langsung berubah menjadi macan yang lapar yang siap memakan mangsa nya, yaitu si junior nekat itu.

Aneh memang, yang dilakukan para senior yang gila hormat itu. Padahal jelas-jelas dari kelas 10-12 sama sama membayar untuk fasilitas sekolah yang tersedia, tapi  sayangnya,kami para junior tidak dapat menikmati fasilitas dengan sepenuhnya contohnya adalah hal-hal yang sudah saya sebutkan diatas, seperti kantin dan lapangan.

Dan mengapa kami tidak boleh melewati koridor kelas 12? Apakah sekolah ini milik para senior? Ya, tentu saja bukan.

Serta masalah soal menggerai rambut, apa hak para senior melarang junior untuk style rambut mereka sendiri selama masih dalam batas wajar.

Ditambah lagi, tidak ada soal tertulis dari pihak sekolah yang mengatakan junior tidak boleh makan di kantin lah, lewat lapangan lah, dan lain-lain yang telah dilarang para kakak kelas.

Dan saya juga baru merasakan, rasanya dilabrak kakak kelas beberapa hari lalu, rasanya…….. lucu dan tidak akan pernah saya lupakan.

Kakak kelas yang masih berada di bangku kelas 11, datang ke kelas kami dan melabrak para perempuan yang ada di kelas kami. Mereka marah karena mereka mendengar jika salah satu anak perempuan di kelas kami menyindir mereka dengan sebutan “cantik” dan juga “agit”. Bagi yang belum tau apa itu agit, agit adalah sebutan bagi anak kelas 3 atau kelas 12. Mereka marah dan menunjuk nunjuk kami dengan cara yang tidak sopan dan jelas saja, siapapun tidak suka dengan hal itu. Saya dan salah satu teman sekelas saya memberanikan diri untuk menjadi perwakilan untuk berbicara dengan kakak-kakak kelas itu. Mereka kesal jika harus disindir dengan kata agit atau cantik karena mereka merasa diri mereka belum menjadi anak kelas 12 dan entahlah mengapa mereka tidak suka dikatakan cantik…

Setiap perkataan mereka membuat saya ingin tertawa karena mereka terus memusingkan hal yang sangat sangat amat tidak penting untuk dipikirkan, tentu saja apapun yang mereka katakan sangat mudah dibalikkan oleh saya dan teman sekelas saya sehingga membuat mereka terdiam karena bingung harus menjawab apa. Dan sampai akhirnya mereka meminta konsekuensi yang harus dihadapi jika teman sekelas kami ada yang menyindir mereka lagi (padahal sebenarnya mereka tidak tau pasti apakah dan siapakah yang menyindir mereka sebelumya). Saya dan teman saya cukup kaget karena permintaan konsekuensi yang mereka ajukan- saya dan teman saya menolak untuk diberi konsekuensi dan mereka terus meminta dan kami juga terus menolak sampai akhirnya mereka menyerah. Tetapi sebenarnya tidak, karena pada akhirnya mereka tetap mengatakan “awas ya sekali lagi”, saya benar benar ingin tertawa karena ulah mereka. Dan akhirnya kami kembali ke kelas dan menceritakan semua yang terjadi kepada teman kami yang lainnya, mereka pun tertawa dan heran mengapa kami begitu berani menghadapi kakak-kakak kelas itu karena sebelumnya teman seangkatan kami lainnya juga pernah ditegur oleh kakak kelas lalu tidak mau masuk selama 3 hari setelahnya karena takut.

Menurut saya, buat apa takut? selama kita di posisi yang benar kita harus berani berbicara jika ada hal yang menganggu kita. Jangan hanya karena mereka kakak kelas, kita takut untuk berbicara kesalahan atau kesalahpahaman yang mereka perbuat dan jangan lupa untuk berbicara dengan sopan dan juga harus diusahakan agar tidak terlarut dalam emosi dalam masalah ini.

Dan apakah kalian ingat dengan film A Bug’s Life dimana para kawanan semut yang berani melawan kawanan belalang yang dari postur tubuh nya saja sudah jelas lebih besar daripada para semut. Tetapi jika kawanan semut sudah bersatu mereka pasti dapat melawan para belalang besar yang nakal itu.

Maka dari itu, kita harus berani melawan senioritas, ajak teman-teman mu untuk memberhentikan hal kekanak-kanakan ini. Jika masih ada yang berpikiran untuk membalas dendam hal yang kalian dulu rasakan sebagai adik kelas yang di intimidasi oleh kakak kelas- tolong dihilangkan, karena hal ini tidak akan menemui ujungnya jika tidak ada yang menghentikan. Dan kita harus bersatu untuk merobohkan dinding kokoh antara senior dan junior dan kompak untuk mengharumkan nama sekolah dengan saling menghormati satu sama lain serta menambah prestasi dibandingkan sensasi.

Jadi siapkah kalian menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki keberanian yang besar untuk melawan kesenioritasan ? 🙂

 

 

Advertisements

PEREMPUAN

Hello my bloGGy mates!!

Banyak hal yang menganggu pikiran saya belakangan ini, yaitu tentang perempuan dan hari-hari yang berkaitan tentang nya. Mengapa menganggu pikiran saya? karena saya tidak setuju dengan hari hari tersebut, seperti Hari Kartini, Hari Ibu, international Women’s Day yang baru baru ini diadakan. Mungkin, beberapa dari anda ada yang setuju dan pasti saja ada yang tidak setuju. Baiklah, saya akan menjelaskan kenapa saya tidak setuju dengan perayaan hari-hari tersebut.

1.Hari Kartini

Alasan yang membuat saya tidak setuju tentang hal ini karena didalamnya mengandung hal tentang emansipasi wanita. Emansipasi wanita adalah penyetaraan derajat wanita dan laki-laki. Contoh tindakannya antara lain perempuan dapat sekolah sampai mendapat gelar profesor atau bekerja di kantor seperti halnya laki-laki. Memang benar, perempuan harus lah pintar karena suatu saat dia akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Tapi emansipasi modern kali ini, menurut saya sudah lewat batas wajar, seakan-akan perempuan bisa lebih unggul dan kuat dibandingkan laki-laki, seakan-akan kita melupakan peran laki-laki. Ini jelas-jelas salah karena perempuan dan laki-laki diciptakan berbeda dan itu sudah merupakan suatu bentuk ketetapan dan tidak dapat diubah. Kita diciptakan berbeda juga untuk melengkapi satu sama lain bukan untuk ajang saling unggul-unggulan. Perempuan dan laki-laki sudah memiliki tugas nya masing-masing. Kita sering melihat atau mendengar seorang ibu berusaha memperjuangkan emansipasi nya sehingga dia terus bekerja, begitu pula dengan suaminya yang bekerja sampai larut malam untuk mencari nafkah sehingga anak nya dititpkan ke pembantu. Lalu dimana peran ibu sebagai sekolah  pertama bagi anak-anaknya? Mereka terlalu sibuk, sehingga anaknya pun lebih dekat dengan para pembantu dibandingkan dengan ibunya sendiri. Ibu seharusnya merawat anaknya, memberi perhatian yang cukup kepada anaknya bukan malah demi mendapatkan uang yang banyak mereka melupakan kasih sayang terhadap anaknya. Dan menurut pengalaman saya selama bersekolah dari SD-SMA, Hari Kartini hanyalah menjadi ajang dimana kita memakai kebaya, lalu berfoto-berfoto, itu saja. Mungkin yang diinginkan Kartini adalah agar perempuan mendapatkan kesempatan untuk bersekolah tinggi dan berakhlak mulia. Tapi kenyataan yang dapat kita lihat sekarang, sekolah hanyalah tempat untuk mengejar nilai tinggi sedangkan akhlak masih harus dilakukan banyak perbaikan.

2. Hari Ibu

Saya tidak setuju dengan Hari Ibu karena menurut saya, hari ini tidak perlu dirayakan. Mengapa seakan-akan kita memuliakan peran seorang ibu, mengingat jasa seorang ibu, menyayangi ibu, memberi hadiah ke ibu hanya hari tertentu?  Peran dan jasa seorang ibu tidaklah pantas jika hanya dihargai sekali selama setahun melainkan peran dan jasa seorang ibu harus dihargai seumur hidup. Jadi menurut saya kita harus menyayangi ibu dan mendoakan mereka setiap saat.

3. International Women’s Day

International Women’s Day diadakan setiap tanggal 8 Maret. Meskipun saya seorang perempuan saya tidak setuju dengan hari tersebut, mengapa? disini perempuan menuntut untuk dihargai terutama oleh kaum lelaki, Bukan berarti saya setuju dengan hal-hal bejat seperti kekerasan seksual ataupun kekerasan fisik, cat calling, dan lain lain, saya juga tidak setuju dan semua orang pasti tidak setuju. Tapi kita harus melihat di sisi lain, mengapa hal-hal bejat tersebut dapat dilakukan. Banyaknya laki-laki yang tidak dapat menjaga pandangan dan mengontrol hawa nafsu, menyebabkan hal ini dapat terjadi. Tetapi saya rasa, hal ini tidak dapat disalahkan sepenuhnya kepada kaum adam, karena manusia diciptakan mempunyai hawa nafsu, baik perempuan dan laki-laki. Dan hawa nafsu dapat kita kontrol dengan menjaga pandangan kita dan menjaga diri kita sendiri. Jika ingin dihargai kita hendaknya MENGHARGAI diri sendiri terlebih dahulu, jangan menghargai diri kita dengan harga murah. Dan saya juga melihat beberapa spanduk yang terdapat di Women’s March di Jakarta beberapa waktu kemarin yang banyak terdapat gambar-gambar tidak senonoh dan juga kata-kata yang tidak senonoh serta dalam Women’s March kemarin juga dihadiri beberapa anak dibawah umur yang pastinya tidak pantas melihat gambar dan kata-kata seperti itu (saya tidak akan memberi gambar/kata-kata tersebut, karena telalu senonoh jika harus ada di kolom blog saya). Contoh kata yang terdapat dalam spanduk antara lain “celana pendek di negara tropis wajar, stop cat calling” lalu bagaimana dengan perempuan yang tinggal di Arab (yang memiliki cuaca lebih panas dibandingkan di Indonesia)mereka tidak memakai celana pendek, malahan mereka memakai baju yang menutupi seluruh aurat mereka. Satu lagi “Don’t tell me how to dress but tell them not to rape” seharusnya kita menjaga cara berpakaian terlebih dahulu agar tidak membuat seseorang nafsu dan hendaknya kita dapat melakukan bela diri agar kita dapat melindungi diri dari ancaman orang-orang jahat disekitar kita.

Di dalam agama saya, agama Islam, semua hal itu sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Dan kita bisa lihat bahwa betapa banyak ayat yang memuliakan seorang perempuan selama kita mau patuh dan taat kepada Sang Pencipta.

Untuk Hari Kartini, tidak ada namanya penyetaraan derajat antara kaum wanita dan laki-laki untuk urusan duniawi. Di Al-Qur’an juga sudah dijelaskan “Dan laki-laki tidaklah sama dengan perempuan [Ali ‘Imran/3:36]

Untuk Hari Ibu, sebenarnya telah dijelaskan pada suatu hadits yang berisikan “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548). Jadi, kita wajib berbakti kepada ibu setiap saat bukan pada tanggal tertentu.

Terakhir untuk International Women’s Day, penghargaan perempuan dalam Islam sudah dimulai sejak perempuan masih menginjak usia kanak-kanak. Dan hal tersebut telah dituangkan dalam sebuah hadits yang berisikan

“Barangsiapa mengasuh dua orang anak perempuan sehingga berumur baligh, maka dia akan datang pada hari Kiamat kelak, sedang aku dan dirinya seperti ini.” Dan beliau menghimpun kedua jarinya.” (HR. Muslim)

Terimakasih telah membaca semoga bermanfaat! 🙂