SAMPAH DISANA SAMPAH DISINI

Hello bloGGy mates!!

Kebersihan adalah sebagian dari iman.

Terkadang kita hanya tau kata-kata itu tanpa diresapi, tanpa dipraktekkan. Kebersihan rasanya bukan lagi hal penting bagi kebanyakan orang, terutama di negara dimana saya tinggal. Buang sampah seenaknya, di lantai, di jalanan, di mana-mana ada sampah. Banyak orang tidak peduli dan mereka kurang lebih berkata “Toh, saya cuma buang satu plastik- apa efeknya? Emang langsung banjir, gitu?” – tapi sayang, yang berbicara seperti itu tidak hanya 1 orang, banyak.

Dan parahnya banyak generasi muda yang lupa- bahwa mereka tugas nya mengatasi, mengingatkan, dan memberhentikan hal-hal salah yang dilakukan oleh pendahulunya. Generasi muda malah ikut-ikutan buang sampah sembarangan. Misal, di lingkungan sekolah, sehabis minum air putih- botol nya dibuang ke lantai atau ditaruh di kolong meja atau bahkan sampah nya ditendang-tendang ke meja depan/belakangnya, seakan memberi kesan meja yang bersih. Padahal, tempat buang sampah itu tepat berada di depan kelas nya. Tidak susah kok jalan ke luar kelas, anggap saja sedang berolahraga. 

Saya heran, apakah mereka dapat merasa nyaman di lingkungan kotor yang penuh sampah? Apakah buang sampah sudah menjadi hobi? Atau sudah menjadi kesenangan tersendiri melihat sampah berserakan?

Sampai di suatu pagi, saya ingin melakukan sebuah riset kecil-kecilan. Pagi itu, saya membersihkan ruangan kelas yang penuh sampah itu, melelahkan memang tapi entah mengapa saya merasa senang (bukan berarti saya memiliki kesenangan tersendiri melihat sampah). Saya sengaja menaruh sampah-sampah yang dibuat oleh teman-teman sekelas saya didepan kelas, dimana menjadi titik pusat penglihatan para murid. Saya hanya ingin melihat reaksi mereka. Semakin lama, banyak murid yang datang. Dan hasilnya…

Yang peduli dan langsung mengambil sapu : 7 orang
Yang tidak peduli dan berjalan melewati tumpukan sampah itu : 30 orang. Sangat jauh, bukan?

Bagi mereka yang sudah ingin menyapu, langsung saya tahan untuk tidak menyapu tumpukan sampah tersebut, karena saya sedang melakukan “riset”. Mereka mengangguk tanda mengerti apa yang saya maksud. Dan saat saya rasa para murid sudah pada datang dan sepertinya guru sudah mau masuk kelas, saya buru-buru membersihkan tumpukan sampah itu (tentunya ke dalam tong sampah).

Dari riset yang saya lakukan ini dapat saya simpulkan bahwa kesadaran akan kebersihan masih berada di bawah angka 0. 

Saya juga masih merasa kesadaran saya akan lingkungan sekitar masih kurang. Tapi bukan tidak mungkin kita semua tidak akan sadar akan kebersihan. Kita akan bisa, kalau kita paham bagaimana mulai rapuhnya bumi kita ini- betapa butuhnya bumi akan kebersihan dari para penduduknya. Kita harus lebih paham dan peka.

Kalau belum menemukan tempat sampah di sekitar kita, lebih baik dipegang terlebih dahulu/atau bawa plastik sendiri- dan langsung dibuang ketika sudah menemukannya. Dan jangan lupa cuci tangan.

Yuk, buang sampah ditempatnya! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s