MASIH SUKA NYONTEK?

Hello, my bloGGy mates!!

Minggu kemarin, saya menjalankan PAS atau biasa disebut UKK. Tidak ada yang berubah dengan sistem penilaiannya, seperti diberi soal pilihan ganda ditambah essay.

Dan tidak ada perubahan pula bagi kebanyakan murid disekolah, masih banyak yang nyontek. Ada yang mencari jawaban lewat google, ada yang tanya-jawab antar teman, dan ada pula yang mengintip jawaban temannya diam-diam.

Bahkan sebelum ulangan dimulai ada beberapa murid dari beberapa sekolah yang mengutip sebuah hadits yang berbunyi

“Barang siapa yang ditanya tentang suatu ilmu pengetahuan lalu ia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat kelak Allah akan mengekangnya dengan kekang api neraka”

(HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Mereka menganggap hadits tersebut dapat dipakai untuk menyindir murid lain yang pelit dalam memberi contekkan.

Salah, salah besar. Hadits ini dikeluarkan pastinya bukan untuk membantu dalam hal contek-mencontek atau yang bisa kita bilang perbuatan dusta.

Berbeda dengan apabila ada yang menanyakan soal ilmu agama dan ia tidak mau memberikan ilmunya atau contoh lainnya ada orang yang tidak mengerti suatu pelajaran- misalnya, tentang trigonometri, saat dia menanyakan soal trigonometri kepada orang yang paham, orang yang paham tersebut tidak mau membagi ilmunya. Jika kedua masalah ini dikaitkan dengan hadits tersebut baru sesuai.

Hadits yang sesuai dalam hal contek-mencontek adalah

Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan kepada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat disisi Allah sebgai orang yang jujur.

Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”

(HR. Muslim no. 2607)

Yang saya ingin ceritakan selanjutnya adalah beragam cara menyontek yang kebanyakan murid lakukan.

Contoh pertama,

Kakak kelas yang duduk disebelah saya saat ujian membuka handphone nya untuk mencari jawaban via google. Oleh karena itu, ia dapat menjawab soal-soal dengan lancar.

Contoh kedua,

Ada juga yang membuat rangkuman tentang mata pelajaran yang diujikan lalu ditaruh di kolong meja, ah sudah biasa bukan?

Contoh ketiga,

Depan, belakang, kanan, kiri saya mendapatkan jawab dengan cara bertanya kepada teman. Misalnya, “Eh nomer 10 jawabannya apa?” lalu diberi kode dengan menggunakan jari- contohnya 1 berarti jawabannya A, 2 berarti jawabannya B, dan seterusnya.

Contoh keempat,

Mengintip jawaban orang, lalu meyalin di lembar jawaban mereka.

Contoh terakhir,

Mengambil foto jawaban mereka lalu dibagikan ke group chat kelas.

Saya harus akui bahwa mereka hebat, iya hebat. Hebat menyontek.

Kalau kejadiannya seperti ini, lalu apa fungsi pengawas? mereka tidak bisa mengawasi anak muridnya dengan benar. Kebanyakan pengawas di ruang ujian asik bermain handphone atau mungkin……. tidur. Ah, tidak bisa diharapkan.

Sampai suatu hari, ada pengawas di ruang ujian saya yang dapat disebut mata elang. Jika diawasi beliau dan masih ada yang nekat menyontek langsung dikeluarkan. Para pencontek pun panik, bingung nanti harus menjawab apa, muka kesal dan panik akhirnya menghiasi wajah mereka- sampai akhir jam ulangan.

Hari remedial pun tiba,

Para pencontek, banyak yang remedial- salah satunya yang mengintip jawaban saya. Sudah menyontek, gagal pula.

Tetapi, banyak juga pencontek yang tidak remedial, dan mereka bangga. Bangga kalau nilai mereka bagus… padahal hasil contekkan. Bahkan ada yang menyombongkan dirinya karena nilai nya bagus. Saya sempat kesal- namun kemudian saya ingat, kalau dia menyontek, setelah itu saya tidak peduli dengannya malah ingin menertawakannya.

Salah satu teman saya, dia tidak pernah menyontek dan dia harus remedial untuk beberapa mata pelajaran. Adil? Tentu saja tidak. Tapi setidaknya dia jujur- dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang jujur, bukan sebagai pendusta.

Banyak alasan mengapa mereka harus menyontek

Pertama, “nilai saya kan harus naik, saya harus mendapatkan SNMPTN”

Kita harus lebih berusaha untuk mendapatkan Surga-Nya, nilai ulangan urusan duniawi semata, kawan. Dan itu dapat kita usahakan dengan belajar lebih giat bukan dengan menyontek.

Kedua, “nilai saya harus bagus, saya ingin membanggkan orang tua saya”

Kalau dengan cara seperti itu, sama saja kita membohongi orang tua. Orang tua kita mungkin bisa bangga, tapi kalau mereka tau itu hasil menyontek? Hm..

Kita pasti pernah menyontek. Tapi, hal itu harus dihentikan, menyontek tidak boleh dijadikan kebiasaan, karena yang dirugikan bukan hanya yang dicontek tapi juga yang menyontek itu sendiri.

Karena, apa yang kita dapat dari menyotek?

Ilmu? Tidak.

Kebanggaan? Tidak.

Mau sampai kapan kita menyontek terus?

Bayangkan, bagi mereka yang dicontek mereka sudah belajar mati-matian, tapi malah dicontekkin.

Kalau kita berhenti menyontek, guru-guru pun bisa tau sampai dimana kemampuan kita sebenarnya dan pada pelajaran apa, serta evaluasi untuk para guru sudahkah mereka menyampaikan materi dengan baik dan dimengerti oleh para siswa nya.

Hal itu pasti akan membantu untuk mengembangkan potensi kita. Misalnya, kita diikutsertakan dalam perlombaan di bidang mata pelajaran yang kita kuasai atau mungkin diberi nilai tambah oleh guru.

Yuk, berhenti nyontek? 🙂

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s