PILIH-PILIH TEMAN

Hello my bloGGy mates!!

Teman dapat dikatakan sebagai seseorang yang menjadi pelengkap dan cerminan diri kita. Mengapa? karena kehadiran teman sangat berpengaruh dalam diri kita- apa yang teman kita lakukan, tanpa kita sadari akan kita lakukan juga.

Kali ini saya ingin membagi kisah saya dan beberapa teman saya.

Setahun belakangan ini, saya merasa kesepian di sekolah. Hal ini dikarenakan sulitnya saya untuk beradaptasi di lingkungan baru. Saya merasa ada perbedaan karakter antara saya dan teman-teman di sekolah, sehingga saya di cap sebagai orang yang individualis, cepu karena melapor ke BK saat ada bullying di kelas, pelit karena tidak mau memberi jawaban saat ulangan, egois dan semacamnya.

Untungnya, saya memiliki teman sebangku yang sepaham dengan saya. Jadi kalau disindir ya sudah satu paket. Awalnya kami nangis kalau disindir tapi lama kelaaman kita malah tertawa kalau ada yang menyindir. Karena dari sindiran mereka, kami belajar untuk semakin sabar dan kuat.

Setelah masa-masa di semester 1 berakhir, kami beranjak ke semester 2. Keadaan masih sama, masih banyak yang kesal dengan kami. Tapi keadaan kami berubah, kami tidak selemah semester lalu.

Tapi itu tidak bertahan lama, kekuatan saya dalam menghadapi mereka hampir saja hilang, karena teman sebangku saya memutuskan untuk pindah sekolah. Saya menangis, saya hampir menjadi lemah kembali.

Melihat keadaan saya yang lemah waktu itu, orang tua saya mengingatkan saya agar tidak berhenti untuk mengungkapkan kebenaran. Dan berusaha semakin sabar dalam menghadapi segala cobaan. Karena sabar, tidak ada batasnya. Jika kita marah atau kecewa setelah berusaha sabar itu namanya kita belum bersabar.

Karena itu, kekuatan saya kembali lagi dan mulai menghargai keputusan teman sebangku saya untuk pindah sekolah dan saling mendoakan yang terbaik di sekolah masing-masing.

Teman saya di sekolah lain juga pernah bercerita, kalau teman-teman nya banyak yang bermuka dua. Misalnya, si A, si B dan si C, suka main bareng, jajan bareng, curhat bareng dsb. Tapi saat si A tidak masuk sekolah, si B ngomongin hal buruk tentang  si A ke si C.

Buat apa berteman jika kita tersenyum di luar tapi ngedumel di dalam?

Berbeda lagi dengan teman saya yang lainnya yang juga sekolah di tempat lain. Dia memakai topeng agar bisa berbaur dengan teman-teman sekitarnya yang sebenarnya kepribadiannya jauh dari dia.

Untuk kita yang masih memakai topeng, lebih baik dilepas sekarang juga.. jangan sampai karena terlalu lama memakainya kita lupa melepasnya.

Dan pasti juga banyak yang bertanya, “kalau saya menjadi diri saya sendiri dan tidak berusaha membaur dengan mereka yang kebanyakan nakal, saya tidak akan punya teman dan merasa kesepian?”

Saya langsung teringat dengan ucapan guru ekonomi saya, kurang lebih ia mengatakan seperti ini..

Kita emang harus pilih-pilih teman, jadi gausah sedih kalau punya teman sedikit… yang penting baik-baik, daripada kita berteman dengan yang bandel nanti kita ikutan bandel.

Kesimpulannya adalah,

  1. Kita tidak boleh takut mengungkapkan kebenaran, jangan takut dihujat atau dibenci, karena zaman sekarang memang sudah kebalik, yang benar di benci, yang salah di senangi. Dan apa yang kita lakukan pada akhirnya akan menjadi tanggung jawab kita sendiri
  2. Kita harus berteman dengan orang yang benar-benar tulus dan selalu membantu kita dalam kebenaran dan mengingatkan kita jika melakukan kesalahan
  3. Jangan pernah memaksakan diri kita untuk berteman dengan orang yang tabiatnya buruk, karena kita tidak akan pernah nyaman atau lebih parah terbawa tabiat buruk mereka. Cari teman yang benar-benar sesuai dengan diri kita dan Allah pasti akan membantu kalau kita mau berusaha dan berdoa.
  4. Tapi tidak lantas ketika kita tau kita mempunyai teman yang tabiat nya buruk kita langsung menjauhi dan membenci nya, kita harus tetap ingatkan. Tapi jika kita sudah ingatkan dan dia tidak peduli baru biarkan dia memilih jalan yang dia inginkan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.
[HR Abu Dâwud no. 4833 dan at-Tirmidzi no. 2378. (ash-Shahîhah no. 927)]

Semoga kita mendapatkan teman sejati dan terbaik, aamiin 🙂